https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/issue/feed Jurnal Teologi (JUTEOLOG) 2026-06-02T00:00:00+07:00 Junio Richson Sirait juniorichson@gmail.com Open Journal Systems <div id="journalDescription-179" class="journalDescription" style="min-height: 120px;"> <p><strong>Jurnal Teologi (JUTEOLOG) </strong>is a double-blind reviewer and open-access peer-reviewed journal that focuses on the novelty of theology, biblical exegesis, and Christian service and education practices through quantitative research, and qualitative research (hermeneutics, argumentative, and case studies).</p> <p><strong>Publisher by Sekolah Tinggi Teologi KADESI Yogyakarta </strong><strong>E-ISSN: <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1613609247&amp;1&amp;&amp;">2775-4006 </a>|| P-ISSN: <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1611725246&amp;1&amp;&amp;">2774-9355</a></strong></p> </div> https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/304 Pengaruh Pengajaran Rasul Paulus Tentang Nasehat Untuk Menjadi Teladan Berdasarkan Surat 1 Timotius 4:1-16 Terhadap Pembaharuan Perilaku Peserta Didik Di SMK Swasta Se-Kabupaten Sragen 2025-12-20T15:07:29+07:00 Hanang Tri Yanuri htriyanuri@gmail.com Hana Suparti hanasuparti@gmail.com Ana Lestari Uriptiningsih analestariuriptiningsih@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengajaran Rasul Paulus berdasarkan 1 Timotius 4:1–16 terhadap pembaharuan perilaku peserta didik di SMK Swasta se-Kabupaten Sragen. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis statistik inferensial melalui uji t, korelasi, dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh hipotesis diterima. Pertama, pengajaran Rasul Paulus tentang nasihat untuk menjadi teladan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembaharuan perilaku peserta didik dengan koefisien korelasi sebesar 0,842 dan kontribusi pengaruh sebesar 71%. Kedua, nasihat untuk hidup dalam iman berpengaruh positif dan signifikan dengan koefisien korelasi sebesar 0,787 dan kontribusi sebesar 61,9%. Ketiga, nasihat untuk hidup dalam pengajaran yang sehat juga memberikan pengaruh positif dan signifikan dengan koefisien korelasi sebesar 0,807 dan kontribusi sebesar 65,1%. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pengajaran Rasul Paulus memiliki peran penting dalam membentuk pembaharuan perilaku peserta didik secara signifikan.</p> 2026-06-02T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/319 OTORITAS: Makna, Tantangan, dan Relevansinya dalam Pembinaan Karakter Mahasiswa Angkatan 2024–2025 Di STTIAA 2026-02-19T22:51:30+07:00 Dwi Lestari Ningsih dwilestari@gmail.com Vinuz Zai vinuszai281085@gmail.com <p>Otoritas merupakan konsep krusial namun problematis dalam konteks pendidikan tinggi teologi di Indonesia, khususnya dengan hadirnya mahasiswa angkatan 2024–2025 yang termasuk dalam Generasi Z digital dan bersikap kritis terhadap hierarki tradisional. Artikel ini bertujuan mengkaji makna, tantangan, dan relevansi otoritas dalam pembinaan karakter mahasiswa STTIAA. Dengan pendekatan kualitatif-interpretatif, penelitian ini mengintegrasikan perspektif teologi, epistemologi personal Michael Polanyi, serta analisis kritis terhadap dinamika sosio-kultural dan kebijakan pendidikan tinggi Indonesia. Melalui penelusuran akar konseptual <em>auctoritas</em> (yang menumbuhkan) dan exousia (kewenangan delegasi), artikel ini berargumen bahwa otoritas yang relevan bukanlah dominasi struktural, melainkan otoritas yang menumbuhkan, melayani, dan membentuk kebebasan yang bertanggung jawab. Bagi Generasi Z, otoritas dosen perlu diredefinisi sebagai otoritas dialogis, kuratorial, dan epistemik yang memandu pencarian kebenaran secara bijaksana. Refleksi diperkaya dengan pemikiran tokoh Indonesia seperti Magnis-Suseno, Darmaputera, dan Kristanto, serta data terkini tentang Generasi Z. Disimpulkan bahwa pemahaman otoritas yang alkitabiah (berdasarkan narasi Penciptaan-Kejatuhan-Penebusan) dan responsif konteks mampu membentuk karakter mahasiswa yang integratif altruis, tangguh, dan misioner sesuai visi STTIAA. Rekomendasi praktis difokuskan pada pengembangan model kepemimpinan dosen, kurikulum partisipatif, dan penguatan komunitas akademik-spiritual.</p> 2026-06-02T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/280 Doktrin Trinitas dalam Perspektif Biblika dan Patristik: Relevansinya bagi Gereja Masa Kini 2025-10-23T11:58:00+07:00 Yanvantius Tulai tulaierni@gmail.com <p>Doktrin Trinitas merupakan pilar utama dalam teologi Kristen yang menyatakan bahwa Allah adalah satu hakikat dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tulisan ini bertujuan untuk menelaah dasar biblika dari doktrin ini sebagaimana tercermin dalam teks-teks Perjanjian Baru serta menelusuri perkembangan dan artikulasinya dalam pemikiran para Bapa Gereja (Patristik). Dengan pendekatan kualitatif dan studi literatur historis-teologis, artikel ini mengkaji bagaimana Konsili Nicea (325 M) dan Konsili Konstantinopel (381 M) memformulasikan pengakuan iman Trinitaris sebagai respons terhadap ajaran sesat seperti Arianisme. Selanjutnya, tulisan ini menyoroti relevansi doktrin Trinitas dalam konteks gereja masa kini, termasuk implikasinya terhadap penyembahan, kehidupan jemaat, relasi interpersonal, dan misi gereja di tengah pluralitas dunia modern. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pemahaman yang benar terhadap Allah Tritunggal tidak hanya mempertahankan kemurnian iman Kristen, tetapi juga membentuk spiritualitas dan pelayanan gereja yang berpusat pada kasih, persekutuan, dan pengutusan.</p> 2026-06-02T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/286 Eksplanatori dan Konfirmatori Menghadap Allah Berdasarkan Ibrani 10:19-25 bagi kaum bapak di Gereja Kristen Oikoumene Filadelfia Kompas Jangkang Sanggau Kalimatan Barat 2025-10-29T20:15:54+07:00 Okto Sinariyo oktosinariyo@gmail.com Ari Suksmono Hertanto arisuksmonohertanto@gmail.com Hendrikus Hendrikus hendrikussemirau77@gmail.com <p>Penelitian ini bermula dari persoalan menurunnya kesadaran spiritual kaum bapak dalam menghayati makna ibadah sebagai hubungan pribadi dengan Allah. Banyak di antara mereka terjebak dalam rutinitas keagamaan yang bersifat seremonial, sehingga ibadah kehilangan dimensi transformatifnya. Tujuan penulisan artikel ini untuk mengetahui tingkat konfirmasi, dimensi yang dominan dalam menentukan konfirmasi hidup dalam beribadah berdasarkan Ibrani 10:19-25 bagi kaum bapak di Gereja Kristen Oikoumene Filadelfia Kompas Jangkang Sanggau Kalimatan Barat. Hasil pengujian hipotesis pertama dilakukan dengan rumus <em>Confidence Interval</em> pada taraf signifikansi 5% diperoleh 130,9871–135,4129. Angka lower bound dan upper bound tersebut berada pada kategori interval sedang sehingga dapat disimpulkan bahwa Konfirmatori Hidup Dalam Beribadah berdasarkan Ibrani 10:19-25 bagi kaum bapak di Gereja Kristen Oikoumene Filadelfia Kompas Jangkang Sanggau Kalimatan Barat ada pada kategori “sedang“. Kedua, dari tabel rekapitulasi &nbsp;regresi linier setiap dimensi exogenous variabel dengan endogenous variable (Y) di atas diketahui bahwa kontribusi terbesar didapatkan dari dimensi D1 Menghadap Allah<strong>&nbsp;&nbsp; </strong>dengan nilai koefisien korelasi 0,937 dan koefisien determinasi 0,878 atau kontribusi sebesar 87,8% dalam membentuk Konfirmatori Hidup Dalam Beribadah berdasarkan Ibrani 10:19-25 bagi kaum bapak di Gereja Kristen Oikoumene Filadelfia Kompas Jangkang Sanggau Kalimatan Barat (Y). Untuk D2 memiliki konstribusi sebesar 80,2%. Hipotesis pertama menunjukkan bahwa tingkat Konfirmatori kategori Sedang, dan yang diajukan ada pada kategori sedang.&nbsp; Hasil pengujian terhadap hipotesis kedua menunjukkan bahwa dimensi yang dominan menentukan konfirmatori Hidup Dalam Beribadah berdasarkan Ibrani 10:19-25 bagi kaum bapak di Gereja Kristen Oikoumene Filadelfia Kompas Jangkang Sanggau Kalimatan Barat adalah Menghadap Allah.</p> 2026-06-02T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/278 Implementasi Ketekunan dalam Iman Berdasarkan Ibrani 12:1–17 pada Jemaat Gereja Kristen Oikumene Grace SP 13, Sekadau, Kalimantan Barat 2026-01-22T15:09:32+07:00 Wiki Hermawan wikihermawan@gmail.com Hestyn Natal Istinatun hestynistanatun@gmail.com Bambang Setiadi Ananius bambang_sa@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana implementasi hidup bertekun di dalam iman berdasarkan Ibrani 12:1-17 pada jemaat Gereja Kristen Oikumene (GKO) Grace SP 13 Sekadau, Kalimantan Barat, serta mengidentifikasi dimensi yang paling dominan dalam memengaruhi ketekunan iman jemaat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan instrumen berupa angket skala Likert yang disebarkan kepada jemaat, serta analisis data melalui uji validitas, reliabilitas, normalitas, dan uji hipotesis menggunakan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat implementasi hidup bertekun di dalam iman berada pada kategori tinggi dengan nilai interval 145,9188 – 149,4145. Selain itu, dimensi yang paling dominan dalam membentuk ketekunan iman jemaat adalah bertekun dalam disiplin rohani yang baik (D2) dengan kontribusi sebesar 95%. Temuan ini menegaskan bahwa pembinaan rohani melalui disiplin spiritual berperan besar dalam membangun ketekunan iman jemaat.</p> 2026-06-02T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/232 Building Wise Christian Leadership in the Era of Virtual Worship 2025-09-01T08:13:27+07:00 Antonius Natan antoniusnatan1@gmail.com Hestyn Natal Istinatun hestynistanatun@gmail.com David Ming david_ming2002@yahoo.com <p>The rapid development of digital technology has significantly transformed the form and practice of Christian worship, especially with the rise of virtual worship services. These transformations demand that church leaders adapt their leadership principles to remain both relevant and effective in guiding faith communities.<br>Since the COVID-19 pandemic, virtual worship has emerged as a dominant medium for congregational gathering, offering increased accessibility and flexibility. However, this shift also presents considerable challenges, such as reduced direct interaction, diminished communal intimacy, and the potential loss of the perceived sacredness of worship. In light of these changes, this article aims to investigate the principles of wise Christian leadership grounded in biblical theology, and assess their applicability within the contemporary context of digital worship. <br>This study employs a <strong>theological-practical approach</strong>, integrating biblical exegesis, leadership theory, and qualitative analysis of current trends in online worship practices. Through literature review and theological reflection, the paper analyzes how church leaders can maintain ecclesial identity and spiritual vitality in a virtual setting.<br>The research reveals that effective Christian leadership in the digital age requires a transformative approach that upholds the essence of worship, fosters spiritual intimacy, and cultivates communal faith formation. Leaders must creatively harness digital platforms to extend pastoral care, teaching, and evangelism while ensuring that worship remains a space for healing, sacred encounter, and the manifestation of the Holy Spirit. This paper contributes to the ongoing discourse on digital ecclesiology by offering strategic insights for church leaders navigating the shift to virtual ministry. It underscores the importance of balancing technological innovation with the preservation of core Christian values, promoting a leadership model that is both contextually responsive and spiritually grounded. Wise and adaptive leadership is essential to guide the church through digital transitions without compromising its theological integrity or mission</p> 2026-06-02T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/300 Jesus as the Messiah 2026-01-22T14:44:47+07:00 Tonny Andrian Stefanus tonnyandrian.bangkit@gmail.com Muner Daliman munerdaliman16@gmail.com <p><span lang="EN-ID">This study presents a biblical-theological exploration of Jesus as the Messiah by examining key New Testament passages that reveal His identity, mission, and redemptive authority. The purpose of the research is to clarify how the Gospel of Matthew integrates faith, salvation, and healing within the ministry of Jesus, while also demonstrating the continuity between Old Testament covenant promises and their fulfillment in Christ. Using a qualitative biblical-theology method, the study conducts textual analysis, canonical tracing, thematic synthesis, and comparative evaluation of selected passages from the Gospels and Acts.The findings affirm that Scripture consistently portrays Jesus as the promised Messiah and the divine Son of Man who possesses authority to forgive sins and bring holistic restoration. Faith in Christ is shown to be the foundation for both salvation and healing, revealing the unity of God’s redemptive work. The study concludes that recognizing Jesus as the Messiah is essential for understanding the fullness of God’s saving activity. This research contributes to theological scholarship by offering an integrated perspective that connects Christ’s healing ministry, covenant fulfillment, and salvific mission within the broader canonical narrative.</span></p> 2026-06-02T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/320 An Intergenerational Model of Inclusive Leadership in the Contemporary Church 2026-02-20T08:32:27+07:00 Ana Budi Kristiani all4u.christ@gmail.com Vian Klasia Wenno wennovian1@gmail.com <p style="text-align: justify;">The phenomenon of generational gaps within the church has emerged as a critical issue affecting leadership sustainability, particularly in Presbyterian traditions that tend to function in a monogenerational pattern. Empirical studies indicate that the dominance of senior generations within church governance structures has contributed to the marginalization of younger members, resulting in decreased participation in ministry and, in some cases, church disengagement. Survey data from Bilangan Research Center (2018) and a report from the Indonesian Ministry of Religious Affairs (2019) reveal that more than half of Christian youth in Indonesia perceive church programs and leadership patterns as increasingly irrelevant to their context.This article aims to examine the causes, impacts, and potential solutions to generational disparities in the church by proposing an intergenerational model of inclusive leadership. Employing a qualitative descriptive approach based on literature review, the study finds that generational gaps are shaped by differences in values, communication styles, leadership expectations, and perspectives on social issues. These differences have led to youth alienation, internal tensions in worship practices, stagnation in leadership succession, and declining congregational engagement.To address these challenges, this study proposes a constructive framework of inclusive leadership that includes: (1) the implementation of multigenerational leadership structures, (2) the cultivation of reciprocal mentoring culture, (3) the creation of intentional intergenerational dialogue spaces, and (4) the development of inclusive worship practices through blended styles and multigenerational ministry teams.The findings underscore that inclusive leadership is not merely an optional strategy but an urgent ecclesiological necessity for the contemporary church. By embracing an intentional intergenerational model, churches can bridge generational divides, enhance cross-generational participation, and sustain ministerial relevance amid rapid societal change, while remaining grounded in their theological identity.</p> 2026-06-02T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/333 Faith-Based Organization dalam Hubungan Internasional 2026-03-05T13:12:28+07:00 Teofilus Setia Wahyudi teofilus.setia@ui.ac.id Timotius Sukarna timotiussukarna@gmail.com <p>Tantangan nasional Indonesia dalam bidang ekonomi, kebudayaan, dan tata kelola sosial menempatkan negara ini dalam keterhubungan yang semakin intensif dengan sistem internasional. Dalam perspektif hubungan internasional kontemporer, interaksi lintas negara tidak hanya melibatkan distribusi kepentingan material, tetapi juga proses konstruksi norma, identitas, dan makna sosial. Artikel ini menganalisis peran Organisasi Berbasis Iman melalui studi kasus Compassion International dan pengaruhnya terhadap sektor pendidikan di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme, penelitian ini memandang Compassion sebagai aktor non-negara transnasional yang berperan dalam difusi norma dan pembentukan identitas kolektif melalui jaringan globalnya. Melalui program pendidikan berbasis komunitas, lembaga ini tidak hanya menyalurkan sumber daya material, tetapi juga mentransmisikan nilai-nilai tentang kepedulian anak, pemberdayaan, dan tanggung jawab sosial yang beroperasi dalam ruang masyarakat sipil global. Interaksi antara identitas religius lembaga, struktur pembangunan internasional, dan regulasi domestik menunjukkan adanya proses socialization dan internalisasi norma dalam praktik pendidikan di tingkat lokal. Perspektif teologis dari Injil Matius 5:14-16 tentang identitas “garam dan terang dunia” digunakan sebagai kerangka normatif untuk memahami konstruksi identitas moral lembaga dalam ruang publik internasional. Dengan demikian, studi ini menegaskan bahwa Organisasi Berbasis Iman merupakan bagian dari dinamika hubungan internasional yang berkontribusi dalam pembentukan tatanan normatif global melalui praktik pendidikan lintas negara.</p> 2026-06-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/283 Eksplanatori dan Konfirmatori Hidup Kudus Berdasarkan 1 Petrus 1:13-25 Bagi Remaja Di GPdI Mahanaim Rembang Jawa Tengah 2026-01-22T12:16:50+07:00 Trilien Telaumbanua trilientel2003@gmail.com Matius I Totok Dwikoryanto Mitdwikoryanto.dk@gmail.com Heni Periati Mendrofa hennypmendrofa@gmail.com <p>Hidup kudus merupakan panggilan bagi orang percaya sebagai respons terhadap karya keselamatan dari Allah di dalam Yesus Kristus. Kekudusan bukan hanya dimaknai sebagai kondisi moral yang terpisah dari dosa, tetapi sebagai perwujudan nyata dari transformasi hidup yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Gereja merupakan salah satu wadah untuk mendidik remaja. Tujuan dasar mendidik remaja adalah supaya mereka dibekali pemahaman dasar tentang kekudusan sehingga hidup bisa menjadi berkat bagi orang lain. Gereja akan dikatakan bertumbuh ketika memiliki remaja yang hidup dalam kekudusan. Berkaitan dengan ajaran tersebut masih ditemukan remaja yang tidak pergi beribadah, berkata kotor, yang membuat terhambatnya pertumbuhan remaja hidup kudus. Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan pengajaran rasul Petrus berdasarkan 1 Petrus 1:13-25 belum dikerjakan secara maksimal. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat dan dimensi mana yang paling dominan menentukan terkonfirmasinya hidup kudus berdasarkan 1 Petrus 1:13-25 bagi remaja GPdI Mahanaim Rembang, Jawa Tengah. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah kuantitatif., data diperoleh dari observasi dan kuesioner yang dibagikan. Hasil menunjukan bahwa tingkat Konfirmasi Hidup Kudus Berdasarkan 1 Petrus 1: 13-25 Bagi Remaja di GPdI Mahanaim Rembang Jawa Tengah pada kategori Tinggi dan dimensi yang Dominan Menentukan Konfirmasi Hidup Kudus Berdasarkan 1 Petrus 1:13-25 Bagi Remaja di GPdI Mahanaim Rembang Jawa Tengah adalah D1 Hidup sebagai anak-anak Allah.</p> 2026-06-02T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/328 Kehadiran yang Mendidik 2026-05-07T15:48:14+07:00 Anastasia Runesi anastasiamasneno@gmail.com <p>Fenomena orang tua yang sibuk atau tidak memperhatikan anak-anak sering menjadi masalah yang muncul pada kegagalan anak di sekolah. Korban dari kesibukan itu semakin subur saat kurangnya penanganan dari orang tua dan guru. Penelitian ini mengkaji telaah yang mendalam tentang peran orang tua yang memberikan kontribusi untuk perkembangan anak, khususnya dalam belajar. Metode yang digunakan adalah kualitatif yang menekankan bahwa fenomena di lapangan merupakan bentuk data yang dibangun. Proses pengambilan data dilakukan melalui pemilihan data-data yang berasal dari buku dan jurnal ilmiah. Hasil penelitian yang didapat ialah keberhasilan anak adalah memandang orangtua di rumah bukan hanya sebagai fasilitator, namun seorang yang dapat memberikan dampak lebih dalam belajar di rumah. Anak dapat menemukan belajar mereka dalam rumah. Pendampingan anak dalam belajar adalah salah satu bentuk hak anak yang harus dipenuhi dan dilakukan oleh peranan orang tua itu sendiri.</p> 2026-06-08T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/325 Peran Spiritualitas Pentakosta dengan Pertumbuhan Iman dan Militansi Pewartaan Injil Pada Jemaat Di GBI Cisarua 2026-04-13T10:56:08+07:00 Effendy Matondang S effendytondang@gmail.com Andreas Eko Nugroho andreas@gmail.com Kornelius Rulli Jonathans korneliusrullijonathans@gmail.com <p>Jemaat GBI Cisarua menunjukkan dinamika rohani yang beragam. Jemaat memahami bahwa spiritualitas Pentakosta menjadi sebuah kekuatan rohani yang menandai kebangunan rohani besar dalam sejarah gereja modern. Pengalaman pribadi dengan Roh Kudus, manifestasi karunia-karunia rohani serta kehidupan yang dipenuhi dengan kuasa dan ketaatan kepada Allah. Namun mereka juga menyadari banyaknya tantangan masa kini yang berdampak munculnya sikap kompromi, apatisme rohani, ketidakmampuan membedakan yang benar dengan sesuatu yang ‘seolah’ benar. Di samping itu permasalahan lain adalah rendahnya partisipasi jemaat dalam melaksanakan pewartaan Injil. Anggapan bahwa pewartaan menjdi tugas pemimpin dan pelayan menjadi alasan jemaat engan terlibat. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang memotret fenomena yang terjadi pada jemaat yang berkaitan dengan topi peneliian. Selain itu penelitian ini juga melibatkan analisis berbagai sumber yang relevan dengan tema penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pertumbuhan iman yang signifikan yang ditunjukkan melalui perubahan sikap dan pembentukkan karekter. Selain itu juga kesadaran jemaat menjalankan tugas mulia pewartaan Injil dalam praksis kehidupan.</p> 2026-06-08T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/326 Analisis Teologis Pendekatan Gereja Pentakosta terhadap Yohanes 14:6 dan Implikasinya dalam Misi Keselamatan 2026-03-05T11:50:36+07:00 Martuaando Romei Hasibuan martuaando@gmail.com Andreas Eko Nugroho andreasnugroho68@gmail.com Yosef Antonius yos_ant@yahoo.com <p>Artikel ini menganalisis Yohanes 14:6 dalam perspektif teologis dan implikasinya terhadap misi keselamatan dengan fokus pada pendekatan Gereja Pentakosta di Indonesia. Fenomena perkembangan pluralisme agama, meningkatnya sensitivitas antar-iman, serta tantangan terhadap klaim kebenaran eksklusif menempatkan gereja pada posisi yang membutuhkan kejelasan teologis dan pendekatan pastoral yang relevan. Pernyataan Yesus sebagai “jalan, kebenaran, dan hidup” sering dipahami secara eksklusif sebagai dasar soteriologi Pentakosta, yang menegaskan keselamatan hanya melalui Kristus. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi bagaimana teologi Pentakosta menafsirkan Yohanes 14:6 secara eksegetis sekaligus merespons dinamika sosial-keagamaan dalam konteks Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan kajian pustaka, analisis eksegetis, dan penelusuran dokumen resmi serta praktik misi gereja Pentakosta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Pentakosta tidak hanya menekankan eksklusivitas teologis, tetapi juga integrasi pengalaman rohani, peran Roh Kudus, praktik liturgis, dan kesaksian hidup sebagai wujud misi yang dialogis dan transformatif. Kesimpulannya, Yohanes 14:6 dipahami bukan sekadar klaim doktrinal yang kaku, melainkan panggilan misi kontekstual yang meneguhkan identitas iman, membangun relasi harmonis, serta menghadirkan keselamatan Kristus secara personal dan komunal dalam keberagaman masyarakat Indonesia.</p> 2026-06-08T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/303 Analisis Teologis Tiupan Sangkakala Keluaran 19:16 dalam Liturgi Gereja Pentakosta Kontemporer di Indonesia 2026-01-22T13:27:04+07:00 Kasmer Hutagalung kasmerhutagalung@yahoo.co.id Kornelius Rulli Jonathans rullijonathans@gmail.com Andreas Eko Nugroho andreasnugroho68@gmail.com <p>Maraknya penggunaan shofar (terompet) dalam ibadah Pentakosta kontemporer memunculkan kebutuhan untuk menelaah kembali landasan-landasan alkitabiah, teologis, dan liturgisnya. Di satu sisi, simbol ini diyakini memancarkan dimensi profetis yang memperkaya pengalaman ibadah; di sisi lain, simbol ini berpotensi menimbulkan penyimpangan seperti ritualisme, legalisme simbolis, dan bentuk-bentuk sinkretisme yang belum teruji. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memberikan evaluasi akademis mengenai makna dan fungsi shofar, khususnya dalam konteks Keluaran 19:16 sebagai teks sentral mengenai teofani dan kehadiran Allah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fungsi teologis shofar dalam konteks teofani Sinai serta menganalisis implikasinya bagi praktik liturgi Pentakosta kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan teologis kualitatif, yang menggabungkan analisis teks Alkitab, tinjauan pustaka, interpretasi liturgi, dan wawancara terbatas dengan para praktisi yang menggunakan shofar dalam ibadah. Temuan-temuan ini menunjukkan tiga dimensi utama dalam Keluaran 19:16: teofani, sebagai tanda kehadiran Allah yang tak terkendali; perjanjian, sebagai panggilan menuju kekudusan; dan eklesiologis, sebagai unsur pembentuk yang membentuk respons spiritual jemaat. Dalam praktik Pentakosta kontemporer, shofar berfungsi sebagai simbol profetik tanpa memiliki kekuatan magis atau mistis apa pun secara intrinsik. Oleh karena itu, penggunaan shofar dapat memperkaya liturgi Pentakosta jika didasarkan pada pemahaman teologis yang kokoh dan dilindungi dari penyalahgunaan simbolis. Studi ini merekomendasikan pengembangan pedoman liturgi yang berakar pada hermeneutika teofanik, serta peningkatan pendidikan liturgi bagi para pelayan ibadah.</p> 2026-06-11T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/279 Eksplanasi dan Konfirmasi Hidup Taat kepada Perintah Tuhan Berdasarkan Ulangan 10:12–22 bagi Pemuda dan Remaja Oikumene di Desa Tumbang Bai 2026-02-19T11:53:20+07:00 Andri Andri andri@gmail.com Sri Wahyuni elisasriwahyuni@gmail.com Heni Periati Mendrofa hennypmendrofa@gmail.com <p>Hidup taat pada perintah Tuhan merupakan respons iman umat kepada kasih dan keagungan-Nya. Berdasarkan Ulangan 10:12–22, Musa mengingatkan bangsa Israel bahwa yang dikehendaki Allah adalah rasa takut, kasih, dan ketaatan yang tulus. Penelitian ini menelaah aspek eksplanatori dan konfirmatori ketaatan pemuda remaja Oikumene di Desa Tumbang Bai, Seruyan Tengah, Kalimantan Tengah. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan angket skala Likert. Data diolah melalui SPSS 25 dengan uji validitas, reliabilitas, normalitas, interval kepercayaan, regresi, dan anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfirmasi hidup taat berada pada kategori “tinggi,” dengan nilai 133,04056–136,55203. Dimensi dominan adalah “hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan,” dengan kontribusi sebesar 91%. Temuan ini memperlihatkan bahwa meskipun pemuda menunjukkan konfirmasi yang kuat, praktik ketaatan mereka dipengaruhi oleh tantangan kontekstual seperti kesibukan pendidikan, pekerjaan, dan aktivitas sosial. Kajian ini memberikan kontribusi bagi teologi pemuda serta implikasi praktis bagi gereja untuk memperkuat pembinaan rohani remaja.</p> 2026-06-12T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/282 Eksplanatori dan Konfirmatori Manusia Baru Berdasarkan Efesus 4:17-32 Bagi Jemaat Gereja Bethel Indonesia Rock Idas Noyan Sanggau 2026-01-22T10:54:44+07:00 Antonius Ajon antoniusajon@gmail.com Sri Wahyuni elisasriwahyuni@gmail.com Fendy Fendy fendy4128@gmail.com <p>Konsep Manusia Baru dalam Efesus 4:17–32 mengacu pada transformasi hidup secara menyeluruh setelah seseorang menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Hidup sebagai manusia baru menuntut penanggalkan pola hidup lama yang dipengaruhi oleh dosa dan penghayatan identitas baru dalam Kristus. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui tingkat konfirmasi manusia baru berdasarkan Efesus 4:17–32 di kalangan jemaat GBI Rock Cabang Idas, Noyan, Sanggau, Kalimantan Barat; dan (2) mengidentifikasi dimensi paling dominan yang memengaruhi konfirmasi tersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan instrumen angket skala Likert. Data dianalisis menggunakan SPSS 25 melalui uji validitas, reliabilitas, normalitas, serta uji hipotesis menggunakan confidence interval (taraf signifikansi 5%), uji regresi (F-test), dan one way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat konfirmasi manusia baru berada dalam kategori tinggi, dengan confidence interval sebesar 249,9485–256,3993. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar jemaat telah menunjukkan perubahan hidup positif, seperti sikap terbuka, kemampuan mengampuni, dan semangat dalam pelayanan. Namun, masih ditemukan tantangan, antara lain keterikatan pada kebiasaan lama seperti mabuk-mabukan, berjudi, serta ketergantungan terhadap praktik-praktik non-Kristiani. Dimensi yang paling dominan dalam membentuk konfirmasi manusia baru adalah “Mengenakan Manusia Baru” (D4), dengan koefisien korelasi 0,967 dan determinasi sebesar 93,6%. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai Kristiani secara nyata dalam kehidupan sehari-hari menjadi kunci transformasi rohani jemaat.</p> 2026-06-24T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/329 Implementasi Pelayanan Misi Berdasarkan Lukas 10:1-12, 17-20 Bagi Para Pendoa 2026-05-07T15:34:01+07:00 Yonathan Bambang Sri Haryanto bethany_nlf@ymail.com Paulus Sentot Purwoko paksentot@gmail.com Timotius Sukarna timotiussukarna@gmail.com <p>Dalam arus perkembangan dan usaha mempertahankan eksistensi gereja, ada bagian penting gereja yang sering diabaikan oleh umat Kristen yaitu pelayanan misi. Di tengah perubahan zaman ini, muncul kebutuhan yang mendesak untuk kembali kepada pola pelayanan misi yang bersumber dari Firman Tuhan secara murni dan kontekstual. Salah satu pola pelayanan misi yang kuat, namun seringkali kurang diperhatikan, adalah apa yang ditunjukkan oleh Yesus dalam Lukas 10:1-12, 17-20. Dalam bagian ini, Yesus mengutus tujuh puluh murid secara berdua-dua untuk melayani di wilayah yang akan Ia datangi. Tugas ini tidak hanya bersifat penginjilan konvensional, tetapi juga bersifat spiritual, profetik, dan penuh kuasa doa. Tujuan penelitian ini adalah: <em>Pertama</em>, untuk mengetahui besarnya implementasi pelayanan misi berdasarkan Lukas 10:1-12, 17-20 bagi para pendoa di Jaringan Doa Regional 07 Jawa Tengah; <em>Kedua</em>, untuk mengetahui dimensi yang dominan menentukan implementasi pelayanan misi berdasarkan Lukas 10:1-12, 17-20 bagi para pendoa bagi para pendoa di Jaringan Doa Regional 07 Jawa Tengah; <em>Ketiga</em>, untuk mengetahui latar belakang yang dominan menentukan implementasi pelayanan misi berdasarkan Lukas 10:1-12, 17-20 bagi para pendoa di Jaringan Doa Regional 07 Jawa Tengah. Dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif, dalam pra-penelitian peneliti mengadakan wawancara, maka ada jenis data kualitatif, sumber data yang digunakan adalah data primer, berupa persepsi para responden atas berbagai pernyataan dalam wawancara mengenai variabel terkait. Jadi dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu wawancara dan angket. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: <em>Pertama</em>, implementasi pelayanan misi berdasarkan Lukas 10:1-12, 17-20 bagi para pendoa di Jaringan Doa Regional 07 Jawa Tengah adalah sedang. <em>Kedua</em>, dimensi yang paling dominan menentukan implementasi pelayanan misi berdasarkan Lukas 10:1-12, 17-20 bagi para pendoa di Jaringan Doa Regional 07 Jawa Tengah adalah melaksanakan pelayanan misi. <em>Ketiga</em>, kategori latar belakang yang dominan menentukan implementasi pelayanan misi berdasarkan Lukas 10:1-12, 17-20 bagi para pendoa di Jaringan Doa Regional 07 Jawa Tengah adalah latar belakang jabatan</p> 2026-06-24T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/339 A Grammatical and Theological Analysis of the Hitpael Form and the Tree Identification in Genesis 3:8 2026-05-25T10:01:17+07:00 Isak Suria isaksuria61@gmail.com David Ming david_ming2002@yahoo.com <p>This article examines the theological significance of the reflexive verb form hitpael in Genesis 3:8 and investigates the identity of the tree mentioned as Adam and Eve’s hiding place. The study explores how grammatical structures and narrative elements reflect the spiritual condition of fallen humanity. Employing qualitative methods that combine grammatical and narrative analysis of the Hebrew text, the study finds that the hitpael form in vayyithabba' denotes a deliberate, self-directed action motivated by shame and alienation. The singular use of the word "tree" (es) suggests it may refer to the Tree of the Knowledge of Good and Evil, highlighting theological irony. This act of hiding symbolizes humanity’s futile attempt to find refuge in the very object of disobedience, underlining the enduring need for divine grace and restoration.</p> 2026-06-24T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG)