https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/issue/feedJurnal Teologi (JUTEOLOG)2026-06-02T00:00:00+07:00Junio Richson Siraitjuniorichson@gmail.comOpen Journal Systems<div id="journalDescription-179" class="journalDescription" style="min-height: 120px;"> <p><strong>Jurnal Teologi (JUTEOLOG) </strong>is a double-blind reviewer and open-access peer-reviewed journal that focuses on the novelty of theology, biblical exegesis, and Christian service and education practices through quantitative research, and qualitative research (hermeneutics, argumentative, and case studies).</p> <p><strong>Publisher by Sekolah Tinggi Teologi KADESI Yogyakarta </strong><strong>E-ISSN: <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&1613609247&1&&">2775-4006 </a>|| P-ISSN: <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&1611725246&1&&">2774-9355</a></strong></p> </div>https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/304Pengaruh Pengajaran Rasul Paulus Tentang Nasehat Untuk Menjadi Teladan Berdasarkan Surat 1 Timotius 4:1-16 Terhadap Pembaharuan Perilaku Peserta Didik Di SMK Swasta Se-Kabupaten Sragen2025-12-20T15:07:29+07:00Hanang Tri Yanurihtriyanuri@gmail.comHana Supartihanasuparti@gmail.comAna Lestari Uriptiningsihanalestariuriptiningsih@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengajaran Rasul Paulus berdasarkan 1 Timotius 4:1–16 terhadap pembaharuan perilaku peserta didik di SMK Swasta se-Kabupaten Sragen. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis statistik inferensial melalui uji t, korelasi, dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh hipotesis diterima. Pertama, pengajaran Rasul Paulus tentang nasihat untuk menjadi teladan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembaharuan perilaku peserta didik dengan koefisien korelasi sebesar 0,842 dan kontribusi pengaruh sebesar 71%. Kedua, nasihat untuk hidup dalam iman berpengaruh positif dan signifikan dengan koefisien korelasi sebesar 0,787 dan kontribusi sebesar 61,9%. Ketiga, nasihat untuk hidup dalam pengajaran yang sehat juga memberikan pengaruh positif dan signifikan dengan koefisien korelasi sebesar 0,807 dan kontribusi sebesar 65,1%. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pengajaran Rasul Paulus memiliki peran penting dalam membentuk pembaharuan perilaku peserta didik secara signifikan.</p>2026-06-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG)https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/319OTORITAS: Makna, Tantangan, dan Relevansinya dalam Pembinaan Karakter Mahasiswa Angkatan 2024–2025 Di STTIAA2026-02-19T22:51:30+07:00Dwi Lestari Ningsihdwilestari@gmail.comVinuz Zaivinuszai281085@gmail.com<p>Otoritas merupakan konsep krusial namun problematis dalam konteks pendidikan tinggi teologi di Indonesia, khususnya dengan hadirnya mahasiswa angkatan 2024–2025 yang termasuk dalam Generasi Z digital dan bersikap kritis terhadap hierarki tradisional. Artikel ini bertujuan mengkaji makna, tantangan, dan relevansi otoritas dalam pembinaan karakter mahasiswa STTIAA. Dengan pendekatan kualitatif-interpretatif, penelitian ini mengintegrasikan perspektif teologi, epistemologi personal Michael Polanyi, serta analisis kritis terhadap dinamika sosio-kultural dan kebijakan pendidikan tinggi Indonesia. Melalui penelusuran akar konseptual <em>auctoritas</em> (yang menumbuhkan) dan exousia (kewenangan delegasi), artikel ini berargumen bahwa otoritas yang relevan bukanlah dominasi struktural, melainkan otoritas yang menumbuhkan, melayani, dan membentuk kebebasan yang bertanggung jawab. Bagi Generasi Z, otoritas dosen perlu diredefinisi sebagai otoritas dialogis, kuratorial, dan epistemik yang memandu pencarian kebenaran secara bijaksana. Refleksi diperkaya dengan pemikiran tokoh Indonesia seperti Magnis-Suseno, Darmaputera, dan Kristanto, serta data terkini tentang Generasi Z. Disimpulkan bahwa pemahaman otoritas yang alkitabiah (berdasarkan narasi Penciptaan-Kejatuhan-Penebusan) dan responsif konteks mampu membentuk karakter mahasiswa yang integratif altruis, tangguh, dan misioner sesuai visi STTIAA. Rekomendasi praktis difokuskan pada pengembangan model kepemimpinan dosen, kurikulum partisipatif, dan penguatan komunitas akademik-spiritual.</p>2026-06-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG)https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/280Doktrin Trinitas dalam Perspektif Biblika dan Patristik: Relevansinya bagi Gereja Masa Kini2025-10-23T11:58:00+07:00Yanvantius Tulaitulaierni@gmail.com<p>Doktrin Trinitas merupakan pilar utama dalam teologi Kristen yang menyatakan bahwa Allah adalah satu hakikat dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tulisan ini bertujuan untuk menelaah dasar biblika dari doktrin ini sebagaimana tercermin dalam teks-teks Perjanjian Baru serta menelusuri perkembangan dan artikulasinya dalam pemikiran para Bapa Gereja (Patristik). Dengan pendekatan kualitatif dan studi literatur historis-teologis, artikel ini mengkaji bagaimana Konsili Nicea (325 M) dan Konsili Konstantinopel (381 M) memformulasikan pengakuan iman Trinitaris sebagai respons terhadap ajaran sesat seperti Arianisme. Selanjutnya, tulisan ini menyoroti relevansi doktrin Trinitas dalam konteks gereja masa kini, termasuk implikasinya terhadap penyembahan, kehidupan jemaat, relasi interpersonal, dan misi gereja di tengah pluralitas dunia modern. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pemahaman yang benar terhadap Allah Tritunggal tidak hanya mempertahankan kemurnian iman Kristen, tetapi juga membentuk spiritualitas dan pelayanan gereja yang berpusat pada kasih, persekutuan, dan pengutusan.</p>2026-06-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG)https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/286Eksplanatori dan Konfirmatori Menghadap Allah Berdasarkan Ibrani 10:19-25 bagi kaum bapak di Gereja Kristen Oikoumene Filadelfia Kompas Jangkang Sanggau Kalimatan Barat2025-10-29T20:15:54+07:00Okto Sinariyooktosinariyo@gmail.comAri Suksmono Hertantoarisuksmonohertanto@gmail.comHendrikus Hendrikushendrikussemirau77@gmail.com<p>Penelitian ini bermula dari persoalan menurunnya kesadaran spiritual kaum bapak dalam menghayati makna ibadah sebagai hubungan pribadi dengan Allah. Banyak di antara mereka terjebak dalam rutinitas keagamaan yang bersifat seremonial, sehingga ibadah kehilangan dimensi transformatifnya. Tujuan penulisan artikel ini untuk mengetahui tingkat konfirmasi, dimensi yang dominan dalam menentukan konfirmasi hidup dalam beribadah berdasarkan Ibrani 10:19-25 bagi kaum bapak di Gereja Kristen Oikoumene Filadelfia Kompas Jangkang Sanggau Kalimatan Barat. Hasil pengujian hipotesis pertama dilakukan dengan rumus <em>Confidence Interval</em> pada taraf signifikansi 5% diperoleh 130,9871–135,4129. Angka lower bound dan upper bound tersebut berada pada kategori interval sedang sehingga dapat disimpulkan bahwa Konfirmatori Hidup Dalam Beribadah berdasarkan Ibrani 10:19-25 bagi kaum bapak di Gereja Kristen Oikoumene Filadelfia Kompas Jangkang Sanggau Kalimatan Barat ada pada kategori “sedang“. Kedua, dari tabel rekapitulasi regresi linier setiap dimensi exogenous variabel dengan endogenous variable (Y) di atas diketahui bahwa kontribusi terbesar didapatkan dari dimensi D1 Menghadap Allah<strong> </strong>dengan nilai koefisien korelasi 0,937 dan koefisien determinasi 0,878 atau kontribusi sebesar 87,8% dalam membentuk Konfirmatori Hidup Dalam Beribadah berdasarkan Ibrani 10:19-25 bagi kaum bapak di Gereja Kristen Oikoumene Filadelfia Kompas Jangkang Sanggau Kalimatan Barat (Y). Untuk D2 memiliki konstribusi sebesar 80,2%. Hipotesis pertama menunjukkan bahwa tingkat Konfirmatori kategori Sedang, dan yang diajukan ada pada kategori sedang. Hasil pengujian terhadap hipotesis kedua menunjukkan bahwa dimensi yang dominan menentukan konfirmatori Hidup Dalam Beribadah berdasarkan Ibrani 10:19-25 bagi kaum bapak di Gereja Kristen Oikoumene Filadelfia Kompas Jangkang Sanggau Kalimatan Barat adalah Menghadap Allah.</p>2026-06-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG)https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/278Implementasi Ketekunan dalam Iman Berdasarkan Ibrani 12:1–17 pada Jemaat Gereja Kristen Oikumene Grace SP 13, Sekadau, Kalimantan Barat2026-01-22T15:09:32+07:00Wiki Hermawanwikihermawan@gmail.comHestyn Natal Istinatunhestynistanatun@gmail.comBambang Setiadi Ananiusbambang_sa@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana implementasi hidup bertekun di dalam iman berdasarkan Ibrani 12:1-17 pada jemaat Gereja Kristen Oikumene (GKO) Grace SP 13 Sekadau, Kalimantan Barat, serta mengidentifikasi dimensi yang paling dominan dalam memengaruhi ketekunan iman jemaat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan instrumen berupa angket skala Likert yang disebarkan kepada jemaat, serta analisis data melalui uji validitas, reliabilitas, normalitas, dan uji hipotesis menggunakan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat implementasi hidup bertekun di dalam iman berada pada kategori tinggi dengan nilai interval 145,9188 – 149,4145. Selain itu, dimensi yang paling dominan dalam membentuk ketekunan iman jemaat adalah bertekun dalam disiplin rohani yang baik (D2) dengan kontribusi sebesar 95%. Temuan ini menegaskan bahwa pembinaan rohani melalui disiplin spiritual berperan besar dalam membangun ketekunan iman jemaat.</p>2026-06-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG)https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/232 Building Wise Christian Leadership in the Era of Virtual Worship2025-09-01T08:13:27+07:00Antonius Natanantoniusnatan1@gmail.comHestyn Natal Istinatunhestynistanatun@gmail.comDavid Mingdavid_ming2002@yahoo.com<p>The rapid development of digital technology has significantly transformed the form and practice of Christian worship, especially with the rise of virtual worship services. These transformations demand that church leaders adapt their leadership principles to remain both relevant and effective in guiding faith communities.<br>Since the COVID-19 pandemic, virtual worship has emerged as a dominant medium for congregational gathering, offering increased accessibility and flexibility. However, this shift also presents considerable challenges, such as reduced direct interaction, diminished communal intimacy, and the potential loss of the perceived sacredness of worship. In light of these changes, this article aims to investigate the principles of wise Christian leadership grounded in biblical theology, and assess their applicability within the contemporary context of digital worship. <br>This study employs a <strong>theological-practical approach</strong>, integrating biblical exegesis, leadership theory, and qualitative analysis of current trends in online worship practices. Through literature review and theological reflection, the paper analyzes how church leaders can maintain ecclesial identity and spiritual vitality in a virtual setting.<br>The research reveals that effective Christian leadership in the digital age requires a transformative approach that upholds the essence of worship, fosters spiritual intimacy, and cultivates communal faith formation. Leaders must creatively harness digital platforms to extend pastoral care, teaching, and evangelism while ensuring that worship remains a space for healing, sacred encounter, and the manifestation of the Holy Spirit. This paper contributes to the ongoing discourse on digital ecclesiology by offering strategic insights for church leaders navigating the shift to virtual ministry. It underscores the importance of balancing technological innovation with the preservation of core Christian values, promoting a leadership model that is both contextually responsive and spiritually grounded. Wise and adaptive leadership is essential to guide the church through digital transitions without compromising its theological integrity or mission</p>2026-06-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG)https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/300Jesus as the Messiah2026-01-22T14:44:47+07:00Tonny Andrian Stefanustonnyandrian.bangkit@gmail.comMuner Dalimanmunerdaliman16@gmail.com<p><span lang="EN-ID">This study presents a biblical-theological exploration of Jesus as the Messiah by examining key New Testament passages that reveal His identity, mission, and redemptive authority. The purpose of the research is to clarify how the Gospel of Matthew integrates faith, salvation, and healing within the ministry of Jesus, while also demonstrating the continuity between Old Testament covenant promises and their fulfillment in Christ. Using a qualitative biblical-theology method, the study conducts textual analysis, canonical tracing, thematic synthesis, and comparative evaluation of selected passages from the Gospels and Acts.The findings affirm that Scripture consistently portrays Jesus as the promised Messiah and the divine Son of Man who possesses authority to forgive sins and bring holistic restoration. Faith in Christ is shown to be the foundation for both salvation and healing, revealing the unity of God’s redemptive work. The study concludes that recognizing Jesus as the Messiah is essential for understanding the fullness of God’s saving activity. This research contributes to theological scholarship by offering an integrated perspective that connects Christ’s healing ministry, covenant fulfillment, and salvific mission within the broader canonical narrative.</span></p>2026-06-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG)https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/320An Intergenerational Model of Inclusive Leadership in the Contemporary Church2026-02-20T08:32:27+07:00Ana Budi Kristianiall4u.christ@gmail.comVian Klasia wennowennovian1@gmail.com<p style="text-align: justify;">The phenomenon of generational gaps within the church has emerged as a critical issue affecting leadership sustainability, particularly in Presbyterian traditions that tend to function in a monogenerational pattern. Empirical studies indicate that the dominance of senior generations within church governance structures has contributed to the marginalization of younger members, resulting in decreased participation in ministry and, in some cases, church disengagement. Survey data from Bilangan Research Center (2018) and a report from the Indonesian Ministry of Religious Affairs (2019) reveal that more than half of Christian youth in Indonesia perceive church programs and leadership patterns as increasingly irrelevant to their context.This article aims to examine the causes, impacts, and potential solutions to generational disparities in the church by proposing an intergenerational model of inclusive leadership. Employing a qualitative descriptive approach based on literature review, the study finds that generational gaps are shaped by differences in values, communication styles, leadership expectations, and perspectives on social issues. These differences have led to youth alienation, internal tensions in worship practices, stagnation in leadership succession, and declining congregational engagement.To address these challenges, this study proposes a constructive framework of inclusive leadership that includes: (1) the implementation of multigenerational leadership structures, (2) the cultivation of reciprocal mentoring culture, (3) the creation of intentional intergenerational dialogue spaces, and (4) the development of inclusive worship practices through blended styles and multigenerational ministry teams.The findings underscore that inclusive leadership is not merely an optional strategy but an urgent ecclesiological necessity for the contemporary church. By embracing an intentional intergenerational model, churches can bridge generational divides, enhance cross-generational participation, and sustain ministerial relevance amid rapid societal change, while remaining grounded in their theological identity.</p>2026-06-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG)