https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/issue/feed Jurnal Teologi (JUTEOLOG) 2026-10-14T18:51:37+07:00 Junio Richson Sirait juniorichson@gmail.com Open Journal Systems <div id="journalDescription-179" class="journalDescription" style="min-height: 120px;"> <p><strong>Jurnal Teologi (JUTEOLOG) </strong>is a double-blind reviewer and open-access peer-reviewed journal that focuses on the novelty of theology, biblical exegesis, and Christian service and education practices through quantitative research, and qualitative research (hermeneutics, argumentative, and case studies).</p> <p><strong>Publisher by Sekolah Tinggi Teologi KADESI Yogyakarta </strong><strong>E-ISSN: <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1613609247&amp;1&amp;&amp;">2775-4006 </a>|| P-ISSN: <a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1611725246&amp;1&amp;&amp;">2774-9355</a></strong></p> </div> https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/316 Religiositas Anugerah Allah dan Hakikat Manusia dalam Perspektif Teologi Biblikal Abad Ke-21 2026-02-20T10:52:39+07:00 Candra Agung Pambudi candraagung@gmail.com Vinuz Zai vinuszai281085@gmail.com <p>Artikel ini membangun argumen bahwa religiositas Kristen yang otentik hanya dapat muncul dari penyataan alkitabiah tentang anugerah Allah yang berdaulat, yang diberikan sebagai respons ilahi terhadap kematian rohani manusia. Argumen ini dikembangkan melalui kerangka Teologi Biblikal yang memeriksa krisis antropologis dalam era disrupsi digital (Society 5.0), di mana anugerah sering direduksi menjadi sumber daya spiritual fungsional dan hakikat manusia direkonstruksi sebagai subjek otonom yang menentukan realitasnya sendiri. Melalui penelitian kualitatif berbasis studi pustaka dan analisis historis-redemptive terhadap kanon Kitab Suci, penelitian ini menunjukkan kesaksian yang konsisten tentang ketidakmampuan manusia berdosa untuk menginisiasi rekonsiliasi dengan Allah, sehingga menegaskan anugerah sebagai kebutuhan yang absolut, bukan komplementer. Lebih lanjut, dengan melakukan kontekstualisasi yang kritis terhadap dinamika gereja di Indonesia seperti tekanan sebagai minoritas religius, maraknya Injil Kemakmuran, dan transformasi digital yang masif artikel ini mendemonstrasikan bagaimana distorsi terhadap anugerah dan hakikat manusia termanifestasi secara spesifik. Temuan penelitian mengungkap bahwa religiositas alkitabiah bersifat teosentris, perjanjian, transformatif, dan resisten terhadap relativisme karena berakar pada tindakan penyelamatan Allah yang sepihak di dalam Kristus. Artikel ini menyimpulkan bahwa pemulihan religiositas yang berpusat pada anugerah, yang tertanam dalam meta-narasi alkitabiah (Penciptaan, Kejatuhan, Penebusan, Penyempurnaan), merupakan hal yang penting bagi gereja di Indonesia untuk mempertahankan identitas, etika, dan misinya yang transformatif di tengah kebingungan antropologis masyarakat kontemporer.</p> 2026-10-14T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) https://ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/327 Pemimpin yang Mempunyai Hati Gembala 2026-06-17T10:38:00+07:00 Andreas Halim andreashalim7313@gmail.com <p>Penelitian ini merekonstruksi konsep "hati gembala" yang telah direduksi menjadi suatu epistemologi relasional yang kokoh, menjembatani hermeneutika biblika dan teori organisasi. Melalui analisis hermeneutika Ricoeurian terhadap Yohanes 10:11–15 dan Mazmur 23, studi ini mengungkapkan metafora gembala sebagai cara mengetahui yang khas, berlandaskan pengenalan timbal balik (ginosko) dan komitmen pengorbanan. Paradigma ini menegaskan bahwa pengetahuan kepemimpinan yang otentik lahir dari keterlibatan intim, secara langsung menantang model manajerial kontemporer yang didominasi data impersonal dan logika algoritmik. Dengan mengintegrasikan teori paradoks dan ethical stewardship, penelitian ini mengkritik gambaran simplistik dan pasif dari servant leadership. Sebaliknya, diperdebatkan bahwa sebuah dialektika dinamis kepedulian dengan otoritas, empati dengan ketegasan adalah esensial untuk menavigasi organisasi yang kompleks. Lebih lanjut, studi ini menempatkan “logika gembala” ke dalam kerangka kelembagaan, dengan mengajukan suatu epistemologi relasional yang memanusiakan struktur birokrasi. Model yang berlandaskan hermeneutika ini menawarkan kerangka kerja yang dapat dipertanggungjawabkan untuk memelihara integritas relasional sambil memenuhi kewajiban sistemik di era digital yang terfragmentasi.</p> 2026-10-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Jurnal Teologi (JUTEOLOG)